nggak perlu dibaca
blog ini sekedar buat seneng-seneng dan ngisi waktu luang. bukan buat jualan, bukan buat nipu, apalagi ngajak berantem. hanya membagikan pemikiran-pemikiran yang muncul begitu saja tanpa diundang. kadang pas lagi makan, kadang pas lagi di toilet, kadang pas lagi tidur. kapan pun datangnya itu, dapat dibaca di sini.
Asal Mula Kata ‘Bajingan’
‘Bajingan’ adalah sebuah istilah yang muncul di tanah Jawa untuk menunjuk seorang pengendara gerobak sapi. Lantas mengapa istilah ini menjadi bergeser maknanya menjadi kata makian saat seseorang sedang marah atau frustasi? Padahal arti kata tersebut sebenarnya menunjuk pada sebuah profesi.
Pada tahun 1940-an di daerah Banyumas, Jawa Tengah, sarana transportasi sangatlah susah untuk ditemui. Kegiatan berdagang dari kota ke kota menjadi sulit. Selain berjalan kaki, untuk mengatasi kesulitan transportasi masyarakat menggunakan jasa gerobak sapi untuk berpindah tempat. Namun kedatangan gerobak sapi, atau lebih dikenal dengan ‘bajingan’, tidak dapat dipastikan waktunya. Kadang ‘bajingan’ datang pada pagi atau siang hari, atau bahkan tengah malam. Masyarakat yang ingin menggunakan jasa ‘bajingan’ terkadang harus menunggu selama berjam-jam untuk mengangkut barang dagangannya ke kota.
Dan kemudian muncul kalimat ungkapan kekesalan masyarakat seperti, “Bajingan suwe tenan sih tekane!” Yang berarti : “Bajingan lama sekali sih datangnya!” Dari situ ‘bajingan’ memiliki pergeseran makna menjadi seperti sebuah umpatan untuk keterlambatan seseorang. Masyarakat kemudian menganalogikan ‘bajingan’ menjadi sesuatu atau seseorang yang datang tidak tepat pada waktunya. Seperti kalimat, “Saka ngendi bae koe, suwe temen sih kaya bajingan.” Yang berarti : “Dari mana saja kamu, lama sekali seperti bajingan.“
Dan sekarang ‘bajingan’ telah semakin bergeser maknanya menjadi umpatan yang lebih umum. Bukan lagi hanya merujuk pada ungkapan kekesalan untuk sebuah keterlambatan.
Sumber : strov.co.cc
Oh, jadi begitu. Hahahahahahaha, baj***an, baru tau aku! ^_^
Menemukan Rahmat
Seekor ikan kecil yang sedang berenang mendekati induknya dan bertanya, “Ibu, apakah air itu?” Sambil tertawa induk ikan menjawab, “Engkau anak yang bodoh. Air ada di sekelilingmu dan ada di dalam dirimu. Karena air engkau dapat hidup. Coba berenang ke atas permukaan kolam ini dan tetap di atas untuk beberapa saat, maka engkau akan mengerti apa itu air.”
Pada saat yang lain seekor anak rusa mendekati induknya dan bertanya, “Mama, apakah udara itu?” Sambil tersenyum induknya menjawab, “Engkau ini bodoh sekali. Kau tidak bisa hidup tanpa udara. Udara ada di sekelilingmu dan di dalam tubuhmu. Jika engkau ingin mengetahui apa itu udara, masukkan kepalamu ke dalam air sungai itu dan engkau akan mengerti apa itu udara.”
Dan seorang anak muda yang mulai tumbuh dewasa termenung melihat sekelilingnya. Timbul suatu pertanyaan dalam hatinya. Ia pun pulang ke rumahnya dan menjumpai ibunya yang sedang memberi pakan ternak. Anak muda itu bertanya, “Bunda, siapakah Tuhan itu?”
Mau Jadi Apa
Seorang pelukis keliling berhenti di suatu kota kecil sambil berharap akan memperoleh pekerjaan untuk hari itu. Salah seorang kliennya ialah seorang yang terkenal sebagai pemabuk di kota itu. Dia menjadi pemabuk karena depresi yang amat sangat. Badannya kotor, pakaiannya kumal dan tidak rapi. Dia duduk di depan pelukis tadi untuk digambar dengan segala gaya yang dapat diungkapkannya. Dan pelukis tadi melukis lebih lama dari biasanya. Setelah selesai si pelukis menunjukkan hasil lukisannya kepada si pemabuk. Si pemabuk yang keheranan itu protes, “Itu bukan saya, ” setelah memperhatikan wajah di lukisan itu yang dihiasi senyum dan berpakaian teratur. Seniman itu pun menjawab dengan penuh kebijakan, “Tetapi itulah dirimu sebenarnya.”
Surga
Ada seseorang yang mempunyai kerinduan yang tidak pernah habis, yaitu kerinduan untuk masuk surga. Akhirnya orang itu meninggal dan masuk surga. Seorang malaikat menghantar dia dan menunjukkan kepadanya pemandangan yang indah. Gunung-gunung menjulang megah, bunga-bunga yang semerbak, terbenamnya matahari, anak-anak kecil yang berlarian. Dia berseru, “Bukankan surga itu indah?” Malaikat menjawab, “Itu bukan surga. Itu bumi yang diberikan Tuhan kepadamu, di mana engkau dulu pernah tinggal tapi tidak pernah kau lihat dan perhatikan.”
Recent Comments